A Letter To Mom

DSC06758Seperti air yang memberi kesejukan

Engkaulah sosok yang mampu menenangkan aku

Seperti bintang yang menerangi malam

Itulah engkau yang membimbing setiap langkahku

Seperti matahari yang menghidupi bumi

Inilah aku yang bukan siapa-siapa tanpamu…

Halo Mi, apa kabar?

Semoga Umi selalu baik-baik saja ya. Rasanya sudah lama sekali kita tidak berjumpa.  Padahal baru seminggu yang lalu anakmu ini ada di hadapanmu. Pulang selalu punya cerita tersendiri, Mi.  Ketika hendak pulang, sepanjang perjalanan dari kota rantau senyuman selalu tersungging di bibirku.  Aku bagaikan anak SD yang bersorak senang ketika bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Lalu berlarian dengan gembira tak sabar ingin sampai di rumah.  Mungkin seperti itulah perasaan setiap anak di dunia ketika kembali ke pelukan ibunya.

Pulang mungkin punya arti yang berbeda bagi setiap orang.  Bagiku pulang seakan mengisi ulang semangat hidup.  Ah ternyata bukan cuma pulsa, Mi, yang perlu diisi ulang.  Hati, jiwa dan raga pun perlu diisi ulang.  Aku perlu menatap langsung cantik wajahmu.  Aku perlu mendengar langsung merdu suaramu.  Tubuhku perlu dialiri makanan lezat racikan tanganmu.  Tubuhku perlu sentuhan lembut penuh kasihmu.

Engkau adalah rumah

Tempat hilangkan semua lelah

Tempat sembuhkan segala gelisah

Ketika kaki terasa berat melangkah

Ketika kehidupan di luar sana mulai tak tentu arah

 

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan seberapa berharganya engkau bagiku.  Betapa berartinya engkau di hidupku. Dalam diamku aku selalu memikirkanmu dan berharap hal-hal baik untukmu. Berharap engkau sehat senantiasa.  Berharap hatimu selalu bahagia.  Berharap semua aktivitasmu berjalan sempurna.

Selamat ulang tahun, Umi sayang..

Semoga dianugerahi umur yang panjang

Semoga diberikan usia yang penuh berkah

Selalu diberi rizki, kesabaran, kesehatan dan kebahagiaan yang melimpah

Merindukanmu..

Mencintaimu…

Peluk cium dari jauh.

Banda Aceh, 12 April 2015

Dear My Tea

Kamu percaya takdir? |  Bukankah manusia yang menentukan takdirnya sendiri?  Aku akan memilih yang terbaik. |  Tidak. Kau tak bisa memilih.  Yang terbaik yang memilihmu.

Siang tadi ada acara makan bersama di kantor.  Saya dan teman-teman bersukacita dengan acara tersebut.  Canda dan tawa mewarnai siang kami waktu itu.

Tapi apalah hidup ini.  Sukacita dengan cepat berganti menjadi dukacita dikarenakan takdir.

Selepas makan bersama, saya membuka akun facebook saya.  Dan salah satu berita yang nampak di dinding facebook membuat detak jantung saya seakan berhenti berdetak.

My heart was totally broke.  My world was getting dark when I heard that news.  She has gone for forever.

Dia telah tiada.  Salah satu sahabat terbaik saya semasa SD dan SMP.

Dan buku-buku di perpustakaan kantor pun menjadi saksi isak tangis sendu saya.

Tuhan, saya ingin pulang ke Jogja.

Tuhan, saya ingin mengantarnya hingga ke tempat terakhirnya.

Dear Tea,

Aku marah pada diriku sendiri yang tak tahu kondisi kesehatanmu

Aku benci pada diriku sendiri yang tak kuasa melawan jauhnya jarak Aceh-Jogja

Dear Tea,

Seketika kenangan-kenangan tentangmu berputar memenuhi kepalaku

Tentang perkenalan pertama kita

Tentang metamorfosa kita dari hanya teman biasa menjadi sahabat setia

Wajahmu, suaramu, langkahmu, gayamu terus terngiang-ngiang di benakku

Hari-hari yang pernah kita lalui bersama

Cerita-cerita yang pernah kita bagi bersama

Kisah-kisah manis kita semasa remaja

Dear Tea,

Aku tak tau akan seperti apa perasaanku jika kelak aku pulang ke tempat kelahiran kita

Ketika aku berada di jalan-jalan yang pernah kita lewati bersama dulu

Ketika aku berada di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi bersama dulu

Ketika aku memandangi barang-barang yang pernah kau hadiahkan padaku dulu

Sanggupkah aku menahan sedihku?

Atau akankah aku menangis semauku untuk meluapkan sedih hingga jatuh tertidur?

Engkau rupa yang tak akan pernah aku lupa

Selamat jalan, kecintaan banyak orang..

Damailah disisiNya..

Doaku selalu untukmu, Rima Tamara Octantea.

Semoga Tuhan berbaik hati menyampaikan tulisan ini kepadamu.

Banda Aceh,

28 Januari 2015

Ibu Membangunkan Ayah dengan Pisang Goreng Buatannya

Ibu membangunkan ayah dengan pisang goreng buatannya agar ayah segera beranjak dari tidur selepas sholat subuh.  Menurut ibu, cuma ada dua jenis orang yang boleh tidur lagi sehabis sholat subuh : 1. orang yang sedang sakit ; 2.  orang yang sedang berpuasa. Menurut ibu (lagi), ada banyak hal yang bisa ayah lakukan daripada tidur di pagi hari.  Ibu akan meminta ayah membuang sampah, memanaskan motor, dan lain sebagainya.

Jika pisang sudah selesai digoreng, ibu akan membangunkan ayah dan berkata bahwa ada pisang goreng yang menunggu untuk disantap.  Mendengar itu, ayah akan segera bangun dan melahapnya. Kata ayah, pisang goreng buatan ibu adalah yang nomor satu di dunia.   Jika Popeye memperoleh kekuatan dengan memakan bayam, ayahku memperoleh semangat dan kekuatan dengan memakan pisang goreng buatan ibu untuk mengawali harinya.

pisang gorenggambar diambil dari sini

 

Tasbih

M  :  Diiii…pengen kado apa?

D   :  Tasbih warna ungu.

Begitulah jawabanku ketika ada seorang sahabat yang menanyakan apa yang aku inginkan sebagai kado ulang tahun.  Aku pun  menyebutkan sebuah benda.  Singkat saja jawabanku.

Ada kisah yang cukup panjang kenapa aku menginginkan benda itu.  Sebuah kisah yang tidak bisa hanya diceritakan via pesan di dunia maya.  Sebenarnya aku ingin sekali bercerita.  Bersamanya, aku bisa berbagi gembira dan lara.  Bersamanya, aku bisa percayakan banyak rahasia.  Kepadanya, dengan malu-malu kubisikkan kelak aku ingin jadi apa, ingin bersama siapa.

Waktu itu, aku sedang tidak baik-baik saja.

Tetapi lidahku kelu untuk menjelaskan kenapa.  Entah sedang malas bercerita, entah resah di hati yang sudah menggurita hingga tak bisa berkata-kata.  Aku hanya berharap, semoga kami bisa bertemu dengan segera agar aku bisa menceritakan semua.  Mungkin dengan melihat matanya, kuperoleh kekuatan untuk kembali lagi ceria.

Dua minggu kemudian Tuhan pertemukan kami.  Kuceritakan hal dilematis yang sedang aku alami.  Ini bukan tentang kisah cinta roman picisan.  Ini tentang pilihan-pilihan  demi keberlangsungan hidup di  masa depan! Yes or No.  Take it or Leave it.

Sudah bisa menebak kenapa aku ingin tasbih sebagai kado?

Ya, aku ingin tasbih untuk bertasbih.  Dengan kondisi dilematis seperti ini, hanya Tuhan yang bisa membantu.  Dengan bertasbih, aku ingin lebih dekat dengan Tuhan.  Aku ingin gumam lirih subhanallah-alhamdulillah-subhanallah bisa mensucikan jiwaku.  Dengan sucinya jiwa, aku bisa merasakan petunjukNya, mendengar kata hati.  Pun bisa menghilangkan keraguan dan ketakutan yang terkadang manusia ciptakan sendiri.

Terimakasih untuk selalu mengerti aku, sahabat. Aku cinta kamu 🙂

tasbih cinta

tasbih cinta

 

"ih Diyan gitu melulu posenya,"komentarnya.

“ih Diyan gitu melulu posenya,”komentarnya.

Alina

“I really adore your eyes and your smile.  I will be the luckiest and the happiest man in this world if I could see those every day.”

Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini padanya.  Aku tak bosan-bosannya mengatakan ini dan dia pun tak bosan-bosannya memberiku senyum manisnya.

“Jangan menggodaku terus,” katanya.

“Terserah aku. Kau tak berhak melarangku,”jawabku sekenanya.

“Kepala batu! Sudah pernah kubilang jangan sekali-kali mengatakan ‘terserah aku’.  Itu menandakan kau orang yang egois dan tak mau mendengarkan orang lain. Orang tak kan suka.”

“Ya, memang aku egois.  Aku akan menjadi lelaki yang penurut pada dua orang saja.”

“Dua orang? Siapa mereka?”

“Ibuku dan….. istriku kelak.”

Kau terdiam.  Kita sama-sama tahu kemana arah perbincangan kita.

Tuhan, jangan sampai aku kehabisan kata-kata untuk dapat meyakinkannya.

Aku telah berkali-kali jatuh cinta pada orang yang salah. Dulu kukira itu cinta, tapi ternyata hanya perasaan semu yang membuat hatiku patah. Kata orang, berjalan itu menyembuhkan. Maka disinilah aku,melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain dan berharap menemukan seseorang yang bisa membuat hatiku utuh kembali.

Sejak aku bertemu dengannya, aku berhenti mencari.

“Kau baru mengenalku beberapa bulan, Sam.  Kenapa kau begitu yakin memilihku?”

“Hatiku sudah memilih, Alina.  Aku tak pernah ragu pada apa yang telah hati bisikkan padaku. Wanita sepertimu yang kubutuhkan untuk mengisi hidupku, menemani dalam senang sedihku.”

“Aku tidak sebaik yang kau kira, Sam, ” sahutnya lirih.

“Tidak. Kau wanita paling baik yang pernah kukenal,” kataku.

“Dan kau adalah laki-laki paling keras kepala yang pernah ku kenal,” ujarnya.

Kali ini aku yang tersenyum.

“How about my past? You never ask me to tell to you,” kata Alina sambil matanya menatap tajam ke arahku.

Sepasang mata indah yang menyimpan sejuta misteri.  Entah apa yang pernah terjadi di masa lalunya.

“I don’t care.  That’s not my business!  Bahkan misalnya dulu engkau adalah seorang pembunuh sekalipun, itu semua tak akan mengubah keinginanku untuk menyandingmu.”

“Aku melihat kebaikan, ketulusan dan kejujuran di senyummu, suaramu, tingkahmu, langkahmu, dan apapun itu.  Aku jatuh cinta pada semua yang ada di dirimu,” tambahku.

“Kau tidak pernah bertanya padaku apakah aku punya perasaan yang sama terhadapmu,” tanyanya.

“Matamu berbicara, Alina.  Aku sudah tahu jawabannya,” jawabku sambil tersenyum lebar bermaksud menggodanya.

Sontak pipinya bersemu merah.  Oh Tuhan, aku senang sekali melihat dia seperti ini!  Apa yang Kau berikan pada wajahnya hingga dia tampak cantik sekali ketika sedang tersipu malu??

“Kukira kau hanya takut berkomitmen, Alina.  Mungkin kau takut akan kusakiti, khawatir akan kutinggalkan suatu hari nanti.  Jika ada sesuatu dari masa lalu yang terus membayangimu dan memberimu bekal hidup berupa prasangka-prasangka buruk, kumohon,  Alina, buang jauh-jauh hal itu.  Tidak cukupkah kesungguhanku selama ini untuk bisa meluluhkan hatimu?”

Dia memandangiku sejenak, lalu melemparkan pandangannya ke arah laut lepas di depan kami.  Angin malam tepi pantai nan sepoi-sepoi membelai. Di sampingnya kurasakan damai.

Setelah terdiam cukup lama, di bawah sinar purnama, aku bertanya.

“So, would you be my future partner,Alina?”

Lihat cara dia berjalan, oh mengagumkan oh mengagumkan

Ikutilah jalan pikirannya, oh mengesankan oh mengesankan

Ingin sekali ku tunjukan betapa berarti senyumnya untukku

Ikutilah gerak jarinya, kau kan terkesan kau kan terkesan

Dengarlah dia mulai bernyanyi, kau kan terharu lalu membisu

Ingin sekali ku katakan betapa berarti tingkahnya bagiku

Karena aku s‘lalu pasti mengagumi dengan hati

Disetiap jengkal indahnya disetiap jengkal buruknya

Karena aku s‘lalu pasti mengikuti lewat mimpi

Disetiap sudut terangnya disetiap sudut gelapnya

(Karena Aku Setia, by Sheila on 7)